Aku pernah kerja di bagian kasir di restoran & cafe. Waktu itu tahun 2000, gajiku 215rb per bulan. Untuk ukuran saat itu aja gajiku termasuk kecil. Tapi dibanding uang bulanan dari ortu yang cuma 100rb per bulan, tentu uang segitu masih cukup buatku. Kalo masuk pagi, aku biasa dikasih makan siang dari dapur restoran. Itu ilegal, orang dapur nyelundupin makanan buat aku makan dibalik salah satu pintu keluar dapur yang jarang dilewati orang karena buntu. Hal yang sama terjadi saat aku masuk shift sore. Selain makan malam yang kumakan sambil duduk di atas jojodog (menyerupai talenan yang terbuat dari kayu), sering juga aku dibawain pulang makanan sama temen2ku di bagian kitchen. Tidak semua bisa dapat "fasilitas" seperti aku. Itu aku dapat karena aku dekat sama orang2 kitchen. Teman2ku yang lain, yang ga seberuntung aku, yang gajinya sama rendahnya kayak aku, biasanya makan di warung nasi kecil depan restoran. Katanya mereka makan habis 5rb. Hmmm, gaji mereka habis buat makan dan ongkos.
Sering aku miris melihat satu meja berisi 2-4 orang yang menghabiskan uang lebih dari gaji kami sebulan cuma untuk makan malam dan minum2. Dengan kerja keras kita melayani tamu, senyum dan pelayanan terbaik kami lebih sering dihadiahi keluhan daripada ucapan terima kasih. Makanan dan minuman yang ada disitu ga mungkin bisa kami beli dengan gaji kami. Kadang aku merasa kehidupan ga adil, tapi lama2 rasa itu hilang tanpa aku sadari. Aku sibuk menikmati pekerjaan ini. Aku dan teman2 senang melakukan pekerjaan ini. Kami menjalani tugas dengan tulus dan bahagia dengan apa yang kami lakukan. Tidak ada yang bisa membeli kebahagiaan kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar